Beranda | Artikel
Pelajaran Tauhid dari Kisah Nabi Ibrahim Alaihis Salam
9 jam lalu

Pelajaran Tauhid dari Kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Burhan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 1 Jumadil Awal 1448 H / 12 Oktober 2026 M.

Kajian Tentang Pelajaran Tauhid dari Kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam

Penulis rahimahullahu ta’ala menjelaskan tentang kedudukan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam. Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam adalah imam bagi seluruh manusia dalam setiap kebaikan.

Dalil yang menunjukkan hal tersebut terdapat dalam Al-Qur’an:

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا…

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Rabbnya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, ‘Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai imam bagi seluruh manusia.`” (QS. Al-Baqarah[2]: 124)

Meskipun sendirian, Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam disebut oleh Allah ‘Azza wa Jalla sebagai suatu umat karena ketaatannya dan kepeloporannya dalam kebaikan.

Dalil mengenai hal ini difirmankan oleh Allah ‘Azza wa Jalla:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴿١٢٠﴾ شَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ ۚ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴿١٢١﴾

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang umat yang patuh kepada Allah lagi hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.” (QS. An-Nahl[16]: 120-121)

Selain itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mensucikan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam dengan menyebutkan bahwa beliau memiliki qalbun salim (hati yang selamat, bersih, dan suci dari kesyirikan, syubhat, serta syahwat).

Allah Subhanahu wa Ta menganugerahkan hujah dan ilmu kepada Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam untuk menghadapi kaumnya.

Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَىٰ قَوْمِهِ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّن نَّشَاءُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

“Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan derajat siapa yang Kami kehendaki. Sesungguhnya Rabbmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am[6]: 83)

Para ulama menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala meninggikan derajat manusia melalui ilmu. Keutamaan ilmu ini telah dibuktikan sejak penciptaan Nabi Adam ‘Alaihis Salam. Meskipun malaikat diciptakan dari cahaya dan iblis dari api, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Nabi Adam ‘Alaihis Salam karena ilmu yang dikaruniakan kepadanya. Oleh sebab itu, Islam sangat menganjurkan untuk menuntut ilmu. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga berisi perintah membaca dan belajar:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq[96]: 1)

Adapun kaum Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam merupakan kelompok manusia yang sangat sesat. Berbeda dengan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam yang berada di atas kebenaran, wahyu, dan memiliki hati yang selamat, mayoritas kaumnya berada dalam kesesatan dan hanya sedikit yang beriman bersamanya.

Kenyataan ini memberikan pelajaran bahwa keterasingan atau sedikitnya jumlah pengikut tidak menyurutkan langkah dalam memegang teguh ajaran Islam. Sejarah para nabi menunjukkan hal serupa; Nabi Nuh ‘Alaihis Salam yang berdakwah selama kurang lebih 950 tahun hanya memiliki pengikut yang sangat sedikit.

Kaum Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam terbagi menjadi dua kelompok dalam perbuatan syiriknya:

  1. Kelompok yang menyembah berhala.
  2. Kelompok yang menyembah bintang-bintang (al-kawakib).

Penyampaian dakwah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam kepada kaumnya yang menyembah berhala dikisahkan dalam Al-Qur’an surah Asy-Syu’ara’ ayat 69 hingga 104. Dakwah tersebut memuat percakapan, argumen tauhid, doa, serta peringatan mengenai kehidupan akhirat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ إِبْرَاهِيمَ ‎﴿٦٩﴾‏ إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا تَعْبُدُونَ ‎﴿٧٠﴾‏ قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عَاكِفِينَ ‎﴿٧١﴾

“Dan bacakanlah kepada mereka berita tentang Ibrahim. Ketika dia berkata kepada ayahnya dan kaumnya, ‘Apakah yang kamu sembah?’ Mereka menjawab, ‘Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.`” (QS. Asy-Syu’ara`[26]: 69-71)

Kaum musyrikin membanggakan perbuatan mereka menyembah berhala. Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam menyampaikan dakwah secara bijak dengan mengajukan pertanyaan bernada teguran mengenai kemampuan berhala-berhala tersebut:

قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ ‎﴿٧٢﴾‏ أَوْ يَنفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ ‎﴿٧٣﴾‏ قَالُوا بَلْ وَجَدْنَا آبَاءَنَا كَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ ‎﴿٧٤﴾

“Dia (Ibrahim) berkata, ‘Apakah mereka mendengarmu ketika kamu berdoa (kepada mereka)? Atau apakah mereka dapat memberi manfaat kepadamu atau memudaratkanmu?’ Mereka menjawab, ‘Bahkan kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian.`” (QS. Asy-Syu’ara`[26]: 72-74)

Jawaban kaum musyrikin menunjukkan bahwa alasan mereka menyembah berhala hanyalah taklid buta mengekor tradisi nenek moyang. Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam menegaskan bahwa sesembahan mereka adalah musuh, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb semesta alam.

قَالَ أَفَرَأَيْتُم مَّا كُنتُمْ تَعْبُدُونَ ‎﴿٧٥﴾‏ أَنتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الْأَقْدَمُونَ ‎﴿٧٦﴾‏ فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّي إِلَّا رَبَّ الْعَالَمِينَ ‎﴿٧٧﴾‏ الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ ‎﴿٧٨﴾‏ وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ ‎﴿٧٩﴾‏ وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ ‎﴿٨٠﴾‏ وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ ‎﴿٨١﴾‏ وَالَّذِي أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ ‎﴿٨٢﴾

“Dia (Ibrahim) berkata, ‘Apakah kamu memperhatikan apa yang kamu sembah, kamu dan nenek moyangmu yang terdahulu? Sesungguhnya mereka itu musuhku, kecuali Rabb seluruh alam. Yaitu Dia yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku. Dan Dia yang memberi makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku. Dan Dia yang akan mematikan aku, kemudian menghidupkan aku kembali. Dan Dia yang sangat aku harapkan akan mengampuni kesalahanku pada hari pembalasan.`” (QS. Asy-Syu’ara`[26]: 75-82)

Setelah menyampaikan argumen tauhid, Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam memanjatkan doa kepada Allah ‘Azza wa Jalla:

رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ ‎﴿٨٣﴾‏ وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ ‎﴿٨٤﴾‏ وَاجْعَلْنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ ‎﴿٨٥﴾‏ وَاغْفِرْ لِأَبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ ‎﴿٨٦﴾‏ وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ ‎﴿٨٧﴾‏ يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ‎﴿٨٨﴾‏ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ‎﴿٨٩﴾

“Wahai Rabbku, berikanlah kepadaku hikmah dan pertemukanlah aku dengan orang-orang saleh. Dan jadikanlah bagiku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang belakangan. Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan. Dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan membawa hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’ara`[26]: 83-89)

Permohonan ampunan untuk ayahnya dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam sebelum datangnya larangan mendoakan orang-orang musyrik yang meninggal dalam keadaan kufur.

Qalbun salim merupakan hati yang selamat, bersih dari kesyirikan, kekufuran, bid’ah, penyakit hati, serta bersih dari syubhat dan syahwat.

Gambaran peristiwa di akhirat dijelaskan dalam ayat-ayat berikutnya:

وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ ‎﴿٩٠﴾‏ وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغَاوِينَ ‎﴿٩١﴾‏ وَقِيلَ لَهُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ تَعْبُدُونَ ‎﴿٩٢﴾‏ مِن دُونِ اللَّهِ هَلْ يَنصُرُونَكُمْ أَوْ يَنتَصِرُونَ ‎﴿٩٣﴾‏ فَكُبْكِبُوا فِيهَا هُمْ وَالْغَاوُونَ ‎﴿٩٤﴾‏ وَجُنُودُ إِبْلِيسَ أَجْمَعُونَ ‎﴿٩٥﴾

“Dan surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa, dan neraka Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang-orang yang sesat. Dan dikatakan kepada mereka, ‘Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu sembah selain Allah? Dapatkah mereka menolongmu atau menolong diri mereka sendiri?’ Maka mereka disungkurkan ke dalam neraka bersama orang-orang yang sesat, dan tentara-tentara iblis semuanya.” (QS. Asy-Syu’ara`[26]: 90-95)

Tentara dan pasukan iblis ditempatkan di dalam neraka Jahim. Di dalam neraka, orang-orang yang sesat berselisih dan mengakui penyesalan atas kesesatan mereka:

قَالُوا وَهُمْ فِيهَا يَخْتَصِمُونَ ‎﴿٩٦﴾‏ تَاللَّهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ ‎﴿٩٧﴾‏ إِذْ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ الْعَالَمِينَ ‎﴿٩٨﴾‏ وَمَا أَضَلَّنَا إِلَّا الْمُجْرِمُونَ ‎﴿٩٩﴾‏ فَمَا لَنَا مِن شَافِعِينَ ‎﴿١٠٠﴾‏ وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٍ ‎﴿١٠١﴾‏

“Rombongan yang sesat itu berkata seraya berbantah-bantahan di dalam neraka, ‘Demi Allah, sungguh kita dahulu dalam kesesatan yang nyata, karena kita menyamakan kamu dengan Rabb seluruh alam. Dan tidak ada yang menyesatkan kita kecuali orang-orang yang berbuat dosa. Maka kita tidak mempunyai seorang pun pemberi syafaat, dan tidak pula mempunyai teman setia yang mencintai.`” (QS. Asy-Syu’ara`[26]: 96-101)

Orang-orang musyrik yang menyembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memiliki teman akrab yang dapat memberikan pertolongan di akhirat. Pertemanan di dunia yang didasari atas maksiat dan kedurhakaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla akan berubah menjadi permusuhan di hari kiamat.

Orang-orang yang bertakwa saling membantu dan memberikan pertolongan. Sahabat yang rajin beribadah serta memegang teguh tauhid memiliki nilai yang sangat berharga untuk dijaga hingga akhir hayat.

Penyesalan orang-orang sesat di akhirat diabadikan dalam Al-Qur’an:

فَلَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ‎﴿١٠٢﴾‏ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ ‎﴿١٠٣﴾‏ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ ‎﴿١٠٤﴾‏

“Maka sekiranya kita dapat kembali (ke dunia), niscaya kita menjadi termasuk orang-orang yang beriman. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabbmu, Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.” (QS. Asy-Syu’ara`[26]: 102-104)

Rangkaian ayat dari surah Asy-Syu’ara’ ayat 69 hingga 104 menjelaskan pentingnya mempelajari ilmu agama melalui Al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Pertanyaan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam kepada kaumnya merupakan pertanyaan takriri (pertanyaan yang menuntut pengakuan). Kaumnya menjawab sambil membanggakan diri tanpa rasa malu bahwa mereka tekun menyembah berhala-berhala tersebut karena dorongan hawa nafsu.

Syaikh Abu Islam rahimahullahu ta’ala menyatakan bahwa hamba-hamba Allah yang menyembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hakikatnya tidak menggunakan akalnya dengan baik.

Sesembahan dan tuhan-tuhan rekaan yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memiliki kemampuan untuk mendengar, melihat, memberikan manfaat, menimpakan mudarat, maupun menciptakan sesuatu. Sesembahan tersebut sangat lemah dan tidak berdaya.

Keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kelemahan sesembahan selain-Nya dijelaskan dalam Al-Qur’an:

بَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا ‎﴿١﴾‏ الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا ‎﴿٢﴾‏وَاتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً لَّا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا ‎﴿٣﴾‏

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak mempunyai anak, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(-Nya), dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan sepointa-pintanya. Namun mereka mengambil sesembahan selain Dia, yang tidak dapat menciptakan apa pun, padahal mereka sendiri diciptakan. Mereka tidak kuasa menolak mudarat dan tidak dapat mengambil manfaat untuk diri mereka sendiri, serta tidak memiliki kuasa atas kematian, kehidupan, dan kebangkitan.” (QS. Al-Furqan[25]: 1-3)

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Pelajaran Tauhid dari Kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56619-pelajaran-tauhid-dari-kisah-nabi-ibrahim-alaihis-salam/